Sabtu, 31 Januari 2015

-Go Home Or Die-

sumber: fanspage creepypasta indonesia
oleh: angger


Kakakku charles baru saja menelpon. ''hallo, fera. bisa ga kamu pulang? ibu sakit keras nih, beliau sekarat. dan ibu terus saja menyebut namamu. cepatlah pulang! mungkin ini saat saat terakhirnya'' ucap kakakku.

Dengan cepat aku mengambil tas, menuju mobil. dan langsung tancap gas menuju rumah ibuku. aku sangat cemas sekali, karena hanya ibuku lah satu satunya orang tuaku yang kupunya. ayahku meninggal saat aku masih sd (jika kau tanya aku).

Saat perjalan, terasa panjang sekali. Mungkin karena hujan yang sangat besar diluar, sementara aku ada di dalam mobil.Di tengah jalan aku menemukan seorang laki laki mengarahkan jempolnya kebawah. Yang artinya , dia meminta tumpangan.

Entah sihir apa yang merasukiku, Aku menghentikan mobil dan membiarkannya masuk. ''hai, nama aku randi. makasih udah ngasih tumpangan. salam kenal'' ucapnya sambil berjabat tangan denganku.

Diperjalan kami tidak saling mengobrol, karena dia duduk dibelakangku. Sampai, dia menodongkan pistol kearahku. ''sial! ini perampokan!!!''.
''ikuti saja perintahku, maka kau akan selamat! bawa aku ke perbatasan tol ini! cepat!!''

Apa dia sudah gila? itu artinya kita harus memutar balik mobil ini. Bagaimana dengan ibuku? aku sangat khawatir dengannya. bagaimanapun juga, aku akan mencari cara untuk lolos dari perampok keparat ini.

Saat kita memutar balik, mobilku tiba tiba macet. Sudah kucoba nyalakan, tetap saja tidak mau menyala. ''kenapa kau berhenti? apa kau suka timah panas ini menembus otakmu!'' ucapnya membentak sembari menodongkan pistolnya. ''Mobilnya macet! gue ga ngerti mesin. Kenapa ga lo periksa?'' ucapku, diapun menurut.

Saat dia membuka kap mobil dan memeriksa mesinnya, inilah kesempatanku!. Aku harus bertemu dengan ibu, siapapun yang menghalangiku, tak akan kubiarkan hidup!
kuambil tali tambang dari bagasi, perlahan aku dekati dia. saat dia berkata ''ini ga ada yang salah kok, lo mau nipu gue?''
Kucekik lehernya dengan tali tambangku ''bagaimana rasanya? ini akibatnya kau menghalangiku untuk bertemu ibuku''

Aku pergi dengan mobilku, meninggalkan jasad pria itu.''dasar bodoh, bagaimana bisa kau mudah sekali tertipu. jarak dari rumahku ke rumah ibuku membutuhkan waktu sekitar 8 jam. Aku mungkin butuh istirahat. Aku melihat rumah kecil, aku memutuskan untuk beristirahat disana.

''Ahh, ternyata ini kost kost an. Kost kost an pria lagi!'' ucapku kecewa'' tapi aku harus segera istirahat. Agar bisa segera ke rumah ibuku. Aku mengetuk pintu, ada seorang pria yang membukanya. Dia kelihatan cukup mapan dan tampan, tapi kenapa dia tinggal di kost kostan kecil begini?

''woy mba, ada apa?'' ucapnya keras, membuyarkan lamunanku. ''oh iya, jadi gini.Gue boleh numpang istirahat disini ga?'' ucapku ''oh boleh banget mba. Silahkan masuk''

Alangkah kagetnya aku saat melihat di dalam kost kostan itu, langsung datang beberapa pria dan mendekapku. ''ini gila! mereka mau memperkosa ku!'' dengan sigap,kuraih pistol yang kuambil dari si perampok tadi. Ku tembaki kepala mereka satu persatu! ''kau pantas mendapatkannya. bajingan!'

*******************************************

''Akhirnya aku sampai rumah'' setelah semua kegilaan ini, aku sangat lelah, semoga rasa bersalahku karena membunuh orang bisa terbayarkan. dan semoga saja ibu baik baik saja, rumahnya terlihat gelap. Apa jangan jangan? tidak mungkin!
Aku langsung berlari menuju pintu, saat aku membuka pintu.

''SURPRISEEE FERA! SELAMAT ULANG TAHUN!'' 

ucap teman temanku.

SUARA DARI LANTAI ATAS

sumber: fanspage creepypasta indonesia
OS by : Manon

Pulang larut malam dari kantor adalah kebiasaan rutin Edward setiap hari. Sebagai seorang akuntan diperusahaan yang tak memiliki cukup banyak karyawan mengakibatkan tugas-tugasnya menumpuk, jika tidak lembur maka ia takkan bisa menyelesaikan semua laporan itu sampai tuntas. Lelah mental dan fisik sudah menjadi santapan sehari-hari.

Setibanya di gedung kos, Edward mendapati pintu kamarnya tak terkunci, "Sial!" umpat Edward sembari bergegas masuk dan berkeliling ke sepenjuru kamar, memeriksa barang-barang serta lemari tempat simpanan uang, tak ada yang berubah, tak ada yang hilang. Edward menghela nafas lega. Sifat pelupa pemuda itu tampaknya semakin parah, terakhir kali ia lupa mengunci pintu kamar kosnya, laptop Aple dan jam tangan Rolex kesayangan pemberian mantan pacarnya yang tajirnya nauzubillah raib digondol maling. Entah siapa malingnya, tapi ia curiga ini ulah salah seorang penghuni mes kumuh ini.

Namun Edward terlalu lelah bahkan untuk sekedar merasa kesal. Ia ingin segera membaringkan tubuh penatnya. Segera Edward menanggalkan seragam kerja, sepatu kemudian menyalakan kipas angin dan merebahkan diri ke atas ranjang apeknya. "Ahhh... nikmatnya.." desah Edward. Rasa lelah ternyata juga memiliki kenikmatan tersendiri. Angin kipas sepoi-sepoi berhembus, menyejukan tubuh kerempeng Edward, kelopak matanya pun semakin memberat, setelah 12 jam membuang waktu berharga di kantor, akhirnya ia bisa... bersantai...
Hampir saja Edward akan terlelap dalam mimpi, tiba-tiba ia mendengar suara cekikikan nyaring dari lantai atas. 

"Pasti si Bob penghuni kamar di lantai atas itu sedang asik kongkow-kongkow dengan temannya Patrick dan Sandy. Sungguh tak tahu waktu. Ini kan sudah terlalu larut untuk bersenda gurau," gerutunya dalam hati. Tapi Edward memutuskan untuk tak menggubris, ia ambil sebuah bantal dan ia tekankan diatas kepalanya agar suara gelak tawa mereka sedikit teredam. Namun sia-sia, mereka malah semakin menjadi-jadi gaduhnya. Ia bahkan mendengar derap langkah kaki berlarian kesana kemari, dan walau tertutup bantal, suara tawa mereka kian terdengar membahana di dalam kepala Edward. Edward frustasi, ia tak dapat lagi menahan amarahnya. Sungguh keterlaluan mereka. Apakah ia tak boleh beristirahat barang sebentar. Gangguan memuakan seolah tak ada habisnya di tempat sialan ini.

Dengan geram Edward segera pergi ke lantai atas, mendatangi kamar penghuni tolol yang berada persis diatas kamarnya. Setelah sampai ia gedor pintunya keras-keras. Seketika saja suara gelak tawa dari dalam berhenti. 'Huh, pasti mereka kaget kan dengan kedatanganku.' Batin Edward.

"Heh, bocah-bocah ingusan! buka pintunya!" teriak Edward penuh emosi.

Senyap. Ia gedor lagi pintunya, kali ini dengan lebih membabi buta. Namun pintu sama sekali tak bergeming. Sungguh tak bermoral, pengecut sekali mereka. Lamat-lamat ia mendengar suara saling berbisik dari dalam. Jadi mereka mau pura-pura tidak ada di kamar. 

"Hei sialan, buka pintunya! Kalian pikir ini jam berapa? membuat kegaduhan! Punya jam tidak sih?!, awas ya kalian!!" bentak Edward kemudian melangkah pergi.

Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan pintu, suara gelak tawa cekikikan mereka tiba-tiba terdengar lagi. Tak pelak itu membuat darahnya kian mendidih. Mereka pasti segaja mempermainkan Edward. "Bob dan patrick sialan, mereka meremehkanku rupanya", Edward sangat geram. Maka ia pun berbalik ke arah pintu, mengambil ancang-ancang, dan mendobrak sekuat tenaga. BRAKKK!! Daun pintu yang ternyata tak terkunci itu langsung saja terhempas membuka, tanpa perlawanan sama sekali. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia merangsek ke dalam untuk mendamprat mereka, namun alangkah terkejut Edward melihat pemandangan dihadapannya...
Di sana, terbaring kaku beberapa onggok mayat. Salah satunya adalah mayat Bob, dengan leher koyak hampir putus. Sedangkan tubuh Patrick terlentang, perutnya sobek menganga, dan Sandy termutilasi. Darah berceceran di sana sini, potongan tangan dan kaki tergeletak di sudut kamar.

Edward melotot memandangi panorama yang tersuguh di depan wajahnya. Mulutnya ternganga, mendadak tubuhnya terasa kaku. Bau anyir yang seketika menyeruak penciuman langsung membuat perut Edward mengejang. Apa yang sebenarnya terjadi, mayat-mayat termutilasi itu... buraian usus itu... serta genangan darah itu... semuanya tampak seperti baru kemarin.

Bah! sungguh dungu! bagaimana Ia bisa lupa!

Dialah yang telah membantai mereka kemarin malam. Lebih tololnya lagi, ia bahkan lupa membuang mayat-mayatnya. Lupa, lupa, lupa, hanya itu yang Edward ingat. Terlalu banyak pekerjaan ternyata dapat menyebabkan kepikunan.

"Bodoh sekali, untung belum ada yang menemukan... nah, sebaiknya sekarang aku bersihkan semua kekacauan ini." Ujar Edward sembari memunguti potongan tangan dan kaki di sudut-sudut ruangan.

"Haaah... ada-ada saja..." keluhnya sambil mendengus kesal.

Waktu tidurnya yang berharga hari ini hilanglah sudah, terbuang percuma hanya untuk menyingkirkan mayat. 

Dan semenjak saat itu, Edward tak pernah bisa tidur, dimanapun ia berada setiap kali matanya terpejam, suara-suara itu selalu melengking di dalam tempurung kepalanya. Suara derap kaki berlarian... serta suara tawa mengejek Bob dari lantai atas...

SAKURATA


sumber: fanspage creepypasta indonesia 



oleh - Kevin


Saya mengilhami suhu panas kopi yang merambat di telapak tangan. Membayangkan uap yang timbul di atasnya mirip kabut-kabut berwarna kabur yang saya lihat ketika saya tidur siang. Kopi dan uap seperti melakukan terapi hipnotis pada otak saya. Dari luar, mereka membuat saya tampak bengong (orang jelek ketika melamun akan disebut bengong), padahal alam pikiran saya berkelindan dan mengembara hingga ke gurun Mesir dan Patung Quan Yin yang amat besar yang ada di pulau Batam. Sampai yang sama sekali tidak penting seperti tower pemancar sinyal yang berdiri agak mepet dengan bangunan rumah tetangga saya dahulu. Saya kemudian tiba-tiba teringat desas-desusnya, tentang tower, mereka bilang, frekwensi yang ditimbulkannya berangsur-angsur dapat merusak kinerja otak seseorang yang berada di dekatnya. Benarkah itu? Karena ketika saya sedang berpikir, apapun topik dan awal mulanya, pada ujungnya selalu diakhiri dengan potret dada Yeyen Lidya yang tampak besar dan kenyal. Saya rasa otak saya terganggu. Dan saya lebih prihatin pada tetangga saya yang rumahnya lebih dekat dengan tower sinyal itu. Dia mungkin bisa lebih buruk lagi, semisal, kautahu, memasukkan telur ayam ke lubang anus
Itu jika saya menunggu di kafe. Saya mungkin saja akan melengkapi narasinya dengan rintik-rintik hujan yang jatuh ke dalam lubang genangan air di bahu jalan. Yang menimbulkan percikan seperti bunga-bunga teratai. Dan saya akan mengembuskan nafas di kaca besar atau gelas atau permukaan benda apa saja dan mengukir nama gadis manis kesukaan saya di sana.
Untuk beberapa alasan saya kurang menyukai kafe. Ia tidak efisien dalam artian harga secangkir kopi sebanding dengan lauk makan seharian. Mungkin dua hari. Jika kau membeli nasi di rumah makan padang untuk dibungkus dan dibawa pulang. Mestinya mengapa jumlah nasi padang yang dibungkus dua kali lipat lebih banyak daripada makan di tempat masuk ke dalam kategori misteri dunia paling besar yang belum terpecahkan. Sampai sekarang saya tak tahu alasannya. Ia bisa disandingkan dengan laut Segitiga Bermuda yang misterius atau penciptaan Piramida atau baterai kuno yang hingga kini belum terkuak zaman.
Alasan lainnya, saya kurang menyukai melankoli. Di kafe, segala hal membuat saya melamun dan menekuri hidup. Hal-hal semacam orang asing yang mengobrol atau kucing lewat atau hujan dan daun yang gugur tiba-tiba saja bisa mengandung makna filosofis. Saya merasakan kadar emosional saya menanjak dan orang-orang yang melihat saya duduk sendiri berpikir jika saya sedang patah hati.
Di dalam kamar kos yang suci dan luhur, saya bisa menunggu sambil menyingkir dari keadaan sendu. Setidaknya begitu. Tentu tak ada satu hal yang bisa disyahdukan dari ruangan sempit dan bau ikan mati dan sumpek dengan keadaan sprei yang semrawut dan bergulung-gulung. Atau tempat sampah plastik penuh bungkus mie instan dan puntung rokok kretek di sudut kamar yang tampak hina sekali.
Beberapa saat lalu, sebuah panggilan dari nomor tanpa nama masuk ke ponsel saya. Saya mengangkatnya. "Sepanjang perjalanan karir saya di dunia percopetan. Anda orang paling menyedihkan." Ia membuka percakapan dengan nada yang amat melecehkan harga diri saya sebagai manusia.
"Baiklah. Saya tahu itu. Maaf jika mengecewakan Anda," saya menjawab dengan nada sopan padahal hati saya terasa sakit.
"Hmm ... saya tidak menemukan apa-apa yang berharga. Di KTP tertulis, di usia setua itu, Anda belum menikah, atau tidak menikah," katanya. Saya belum bisa menduga arah pembicaraan. "Itu bagus. Saya tak bisa membayangkan betapa menderitanya istri Anda nanti." Kampret. Kali ini dia menistakan harga diri saya sebagai laki-laki.
"Jadi apa maumu sebenarnya selain menghina saya?"
"Saya ingin mengembalikan dompet ini. Saya takut Anda mendoakan saya segala yang buruk. Anda tahu, doa orang susah selalu didengar oleh Tuhan."
Saya menimbang-nimbang. "Oke. Saya tunggu di jalan Kembang depan apotek Srikandi. Jam tiga sore ini."
Dia menutup telepon.
Dua hari lalu. Hari Sabtu tengah bulan setelah turun dari angkot. Perempuan muda menyenggol saya dari belakang. Dia meminta maaf sekadarnya dan dia gadis belia yang cantik dan di situ untuk sesaat saya mengira ia anak manis yang punya perilaku baik.
Penampilan luar yang menggemaskan itu ternyata menipu belaka. Dengan kecepatan seorang pencuri andal, dia menyelinap memasukkan tangannya ke dalam celana saya. Waktu itu saya memakai celana berbahan ketat dan seharusnya dia agak mengalami kesulitan saat berupaya merogoh ke dalam kantung belakang. Tetapi telapak tangannya lembut dan pergerakannya amat gerilya.
Setelah kejadian penuh muslihat itu saya pulang ke kos dengan perasaan berbunga-bunga, tanpa menyadari sedikit pun bahwa saya baru saja kecolongan. Sesampainya di kamar, saya sempat berpikir jika gadis itu sebetulnya jodoh dan dia dikirimkan untuk menyudahi hari-hari saya yang senantiasa kosong. Pikiran-pikiran yang membuat wajah bersemu. Akan sangat menyenangkan dan menjadi sebuah kisah tersendiri jika kami kembali bertemu oleh suatu ketidaksengajaan lainnya di waktu berikutnya, dan di saat itu, kami akan mulai akur dan membicarakan tentang hobi masing-masing atau zodiak. Saya tipe plegmatis yang suka membaca sementara si gadis tipe sanguin yang menggemari tarian angsa. Saya orang Capricorn yang membenci hampir segala hal dan dia si Taurus yang teliti. Kami akan menjadi pasangan yang suka bertengkar kemudian dengan cepat berbaikan lagi oleh sebab yang tak jelas.
Namun pikiran-pikiran bagus itu segera berbalik arah ketika saya membuka celana. Kantung belakang celana saya kelihatan kempis dan baru saya sadari bahwa dompet yang amat setia dalam segala keadaan itu lenyap tanpa kata-kata. Saya sempat berbaik sangka jika jatuh pada saat berjalan di suatu tempat atau kesilapan saya yang menyebabkannya ketinggalan belaka. Tetapi setelah seisi kamar sudah selesai digeledah saya tak mendapati apa-apa. Kecurigaan itu akhirnya tuntas ketika dia menelpon saya lewat nomor yang mungkin dia temukan dalam kartu nama saya di dompet lusuh itu.
"Kecantikan itu racun," kata saya. Sambil tak henti-hentinya membatin tentang kecerobohan sendiri. Mengapa saya tidak juga menyadari? Dari dulu wanita memang racun. Dari zaman R.A. Kosasih masih membikin komik Parikesit tentang Rukmini yang mengelabui Jakasombo, dan membuatnya memberi tahu segala kelemahannya itu hingga membuat sang suami remuk-redam di tangan Wratsangka. Sampai yang agak klasik semisal gelinjang manja Marilyn Monroe yang membuat Presiden Kennedy dan adiknya blingsatan.
Ditemani keragu-raguan, saya memutuskan untuk menemui janji si gadis sekitar jam empat sore karena saat itu hujan turun gerimis. Terlambat satu jam tetapi saya tak begitu mengharapkan kejadian macam-macam; saya lebih mengira dia akan kembali menipu dan pada akhirnya membuat saya menunggu seorang diri. Didorong keyakinan yang tak tentu, akhirnya saya memilih untuk memasuki sebuah bangunan halte kusam di depan apotik. Halte itu tak begitu jauh dari tempat terakhir si gadis melihat saya dan saya pikir dia akan dengan mudah melihat dan mengenali saya.
Saat itu masih gerimis dan suasana sangat hening. Tidak ada manusia yang lewat dan menegur saya apa saja kecuali kendaraan berlalu-lalang. Dalam tempo waktu yang cukup untuk menekuri kehidupan atau mempertanyakan semesta, saya masih mampu bersabar walaupun sesekali air genangan hujan terciprat saat kendaraan yang tanpa berpikir melintas dengan kencang. Saya tidak mampu berbuat apapun kecuali menyetarakannya dengan setan jahanam.
Si gadis tak kunjung menampakkan rambut kuncirnya dan saya mulai kelelahan akibat berdiri cukup lama. Di balik atap halte yang merembes limabelas menit kemudian, saya merasa seperti seekor keledai dungu yang basah. Saya lalu duduk di bangku beton yang disiapkan untuk para penunggu tanpa pikir panjang atau menyadari bahwa ada air yang menggenang di sana. Saya kadung mendudukinya dengan mantap.
"Anjing," kata saya, sembari merasakan sensasi dingin yang menjalar di pantat. Lagi-lagi saya hanya mampu mengikhlaskannya.
Beberapa saat berikutnya, entah sejak kapan, langit mulai cerah. Dan sekomplotan perempuan segar yang saya terka baru pulang membolos sekolah, telah duduk agak jauh di bagian bangku halte yang lain. Tiga atau empatbelas perempuan yang berisik itu saling berebut bicara hingga membuat saya bingung siapa di antara mereka yang berperan menyampaikan sesuatu dan siapa yang menyimak. Mereka terkikik-kikik dengan riuh sekali tetapi tetap terlihat santai.
Saya hanya mendengarkan dengan dada yang lapang sambil sesekali mensejajarkan mereka dengan binatang. Di sore hari yang mulai gelap dan segalanya terasa menyebalkan begini, semua orang seperti bisa tiba-tiba berubah menjadi anjing.

Penantian yang panjang tetapi tidak berarti apa-apa itu pun akhirnya saya sudahi. Beberapa waktu kemudian yang tak bisa saya perkirakan tepatnya, saya sudah habis kesabaran. Dengan langkah menghentak dan bokong yang lembab, saya meninggalkan halte tanpa mengucap salam perpisahan atau sekadar menengok ke belakang. Dalam kekesalan yang menganjing-anjing itu, saya menyadari satu hal: saya pasti demam esok hari.




Minggu, 06 April 2014

IKAN DISCUS

red-discusIkan diskus merupakan jenis ikan hias yang didatangkan dari sungai Amazon (Brasil). Disebut diskus karena  bentuk tubuhnya mirip lempengan disk yang berdiri tegak

IKAN CUPANG

Cara budidaya ikan cupang – untuk ikan cupang memang di indonesia sekarang ini ikan cupang banyak sekali peminatnya dan mereka juga ingin membudidayakannya dan ini membuat pasar ikan cupang menjadi sangat ramai, karena banyak sekali permintaan di pasaran untuk mendapatkan ikan cupang yang bagus dan unggul.

Ayam Serama

Serama merupakan mahluk hasil kreatifitas Wee Yean Een seorang “penghulu ayam” dari Negeri Jiran. Pada tahun 1971 ia menyilangkan ayam Kapan alias kate kaki panjang dengan ras ayam Modern Game Bantam.

Animasi Bergerak Motor Listrik

 
Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik